Jalan Hidup Santri Bernilai Ibadah


Oleh: El-Faredl

Saat ini menjadi seorang santri merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Tentunya sabab musabab kebanggaan itu muncul dilatar belakangi dengan latar belakang yang berbeda-beda. Misalnya bangga karena bisa berbahasa Arab dan Inggris, bangga karena bisa hafal nadzom alfiyah  diluar kepala seperti yang terlihat di youtube, bangga karena bisa menjadi seorang Hafidz dan Hafidzah yang nantinya bisa ikut lomba tahfidz atau menjadi seorang Imam di suatu masjid, bangga karena sudah dibanggakan oleh kedua orang tua, dan masih banyak lagi. Dengan demikian bangga menjadi santri karena ada motivasi yang kuat dalam dirinya. 

Namun di sisi lain ada juga santri yang justru malah minder menjadi seorang santri. Ya tentunya sabab musababnya banyak juga. Misalnya gara-gara bisulan, kurapan cenang dan sahabat-sahabatnya itu akhirnya minder,  selain itu ada juga karena selalu dipaksa untuk bangun harus dipagi buta untuk melakukan shalat tahajjud, dipaksa keluar kamar, pergi ke kelas dan masjid dengan diburu-buru sambil dihitung, dan masih banyak lagi. Dengan demikian sikap santri terhadap kenyataan pahit yang menimpanya itu kurang dihadapi dengan sabar. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۗ وَا للّٰهُ الْمُسْتَعَا نُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ

"... maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS. Yusuf 12: 18)

Karena yang demikian itu adalah sebuah pendidikan untuk melatih mental dan fisik agar menjadi pribadi yang tangguh dan berdisiplin. Selain itu adakalanya dalam beribadah itu harus ada paksaan sehingga menjadi sebuah kebiasaan yang baik.

Sebagaimana Rasulallah SAW, bersabda: 

الْخَيْرُ عَادَةٌ وَالشَّرُّ لَجَاجَةٌ وَمَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Kebaikan adalah kebiasaan (bagi seorang mukmin) , sedangkan keburukan itu adalah lermusuhan. Barang siapa dikehendaki mendapat kebaikan oleh Allah, niscaya dia menjadikannya mengerti dalam hak agama".  (HR. Ibn Majah).

Pada dasarnya seorang santri mereka harus tahu kedudukannya dalam menuntut ilmu.  Apakah santri menuntut ilmu itu dengan bersungguh-sungguh atau tidak? apakah santri tahu betul bahwa hakikat dari menuntut ilmu itu, semata-mata tujuannya adalah untuk mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya?

Sebagaima Allah SWT, berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Kalau santri itu tahu betul kedudukan seorang penuntut ilmu itu apa, maka tentunya dia tidak akan pernah menyia-nyiakan waktunya walaupun  satu detik dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Agar nanti ilmu yang sudah didapat bisa berguna untuk dirinya, keluarganya dan orang lain dalam ketaatan. Sebagaimana Allah SWT, berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَآ فَّةً ۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَـتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْۤا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

"Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah 9: Ayat 122)

Dan semestinya para penuntut ilmu itu tahu betul bagaimana dia harus bersikap dengan ilmunya,  dan motivasi apa sebenarnya mereka dalam menuntut ilmu itu?

Berikut ini adalah 6 keutamaan bagi penuntut ilmu, yang perlu dijadikan motivasi dalam dirinya, sehingga menjadi jalan terang dalan kehidupannya tentunya ilmu tersebut dapat diridhai Allah SWT,  di antaranya: 

1. Diberikan kedudukan yang tinggi.

Secara akal sehat, orang berilmu baik yang memiliki ilmu pengetahuan dan syari'at, pastinya akan selalu ditanya oleh orang tidak berilmu. Maka secara dzohir orang berilmu kedudukannya lebih tinggi dibandingkan yang tidak berilmu.  Sehingga Allah SWT, menyatakan dalam firman-Nya: 

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ وَا لْمَلٰٓئِكَةُ وَاُ ولُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِۢالْقِسْطِ ۗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ۗ 

"Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 18)

Di dalam ayat tersebut, bagaimana Allah SWT memulai dengan diri-Nya dan disusul oleh para malaikat, kemudian ahli ilmu. (Syekh Nawawi Al-Bantani, Tanhiqul Qaul: 7)

Di lain ayat Allah SWT, berfirman:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

"... Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.
"(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11)

Tentunya suatu pencapaian sebuah kedudukan, pangkat dan kemuliaan tidak akan diraih dengan bermalas-malasan, keluh kesah, tidak diniatkan dengan yang baik. Melainkan hal itu dilakukan dengan kerja keras dan penuh disiplin. Maka seyogyanya para penuntut ilmu mesti bersungguh-sungguh dalam menimba ilmunya. Hal ini sesuai dengan sabdanya Rasulallah SAW: 

وَإِن فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ 

"Sesungguhnya kelebihan serang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang"  (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) 

Ketika ilmu itu telah diraih bahkan sudah bersemayam di hati, maka tidak hanya berhenti di sana, melainkan bagaimana ilmunya itu bisa bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. 

خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ath-Thabrani) 

Bahkan perumpamaan bagi penuntut ilmu  yang tidak mengamalkan ilmunya ada yang diumpamakan, seperti sebuah pohon yang tidak berbuah.

Sebagaimana yang dikatakan dalam untaian hikmah bangsa Arab: 

الْعِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرٍ بِلَا ثَمْرَةٍ

"Ilmu yang tidak diamalkan seperti pohon yang tidak berbuah" 

2. Mendatangkan Pahala yang tidak terputus 

Imam Nawawi dalam Riyadhus Salihin, menyebutkan bahwa Umar ibn Al Khatab, pernah mendengar Rasulallah SAW, bersabda: 

"Barang siapa berjalan menuju majlis ilmu dari seorang alim, maka setiap langkahnya mendapatkan seratus kebaikan. Apabila duduk di dekatnya dan mendengarkan apa yang dikatakannya, maka dengan setiap perkataan ia akan mendapatkan satu kebaikan" (Syaikh Nawawi, Tanhiqul Qaul: 7)

Selain itu Nabi bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ, فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Hadist  di atas diperkuat dengan hadist berikut ini: 

 مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا فَلَهُ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهِ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْعَامِلِ

“Barang siapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala dari orang-orang yang mengamalkannya dengan tidak mengurangi sedikit pun pahala orang yang mengerjakannya itu.” (HR Ibnu Majah)

Terkait dengan seseorang yang telah meninggal, maka ilmu yang telah ia sampaikan kepada orang lain, pahalanya akan terus mengalir sampai hari kiamat, inilah yang disebut dengan ilmu yang bermanfaat.

Rasulallah SAW, bersabda: 

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

”jika manusia meninggal maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shodaqoh jariahnya, ilmu yang bermanfaat dan anak yang saleh yang mendoakan kedua orang tuanya,” (HR Bukhori dan Muslim)

3. Hamba yang paling takut kepada Allah 

Allah SWT, berfirman:

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَا دِهِ الْعُلَمٰٓ ؤُا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

" ... Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun."
(QS. Fatir 35: Ayat 28)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.”

4. Seorang Mujahid

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا  ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 69)

Mengenai ayat di atas, Ibnu Katsir dalam Tafsirnya mengatakan bahwa, Abbas Al-Hamdani Abu Ahmad (seorang ulama dari kalangan penduduk' Akka) dalam mentafsir ayat tersebut beliau menta'wilnya dengan kalimat: " Yaitu orang-orang yang mengamalkan ilmunya, kelak Allah akan memberi mereka petunjuk terhadap apa yang tidak mereka ketahui sebelumnya". 

Maka dengan demikian, tidak selamanya jihad itu terkait dengan senjata saja, tetapi ada juga pelabelan mujahid disematkan pada selainnya, seperti pada seorang ibu yang meninggal saat melahirkan, seseorang yang membela harta dan martabat keluarganya dari ancaman orang, dan tidak terkecuali bagi penuntut ilmu, bahkan pelabelan Mujahid yang disematkan kepada para penuntut ilmu itu langsung dari sabdanya Rasulallah SAW: 

مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

"Barang siapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai ia kembali." (HR. Turmidzi)

5. Balasannya adalah Syurga

Sebagaimana sabda Rasulallah SAW: 

 مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

"Barangsiapa berjalan di suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga." (HR. Tirmidzi: 2570) 

Tentunya hadist tersbut sebagai kabar gembira yang dikhususkan kepada para penuntut ilmu yang ikhlas  semata-mata untuk mengharap ridha Allah, bukan ingin didengar orang atau dilihat orang. Sebagaimana hal itu disebutkan oleh  Abdurrauf Al-Munawi dalam Faidhul Qadir Syarah Al-Jami Ash-Shagir.

Dengan demikian melalui ilmu yang dimilikinya, Allah akan memudahkannya melakukan amal saleh. Sedangkan amal saleh adalah wasilah bagi seorang hamba dimasukkan ke surga.

6. Semua makhluk di bumi mendoakan para penuntut ilmu

Tidak hanya manusia  saja yang mendoakan untuk para penuntut ilmu, tetapi seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi ini bahkan ikut mendoakan para penuntut ilmu.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ

"Sungguh, para malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintai ampunan oleh penduduk langit dan bumi, bahkan hingga ikan yang ada di dasar laut."(HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Maka dengan demikian, kesimpulan dari semua keterangan di atas, bahwa semua aktivitas, baik yang keluar dari hati, lisan, perkataan dan perbuatan para santri dalam menjalankan hidupnya selama menuntut ilmu tentunya bernilaikan ibadah, karena ibadah secara bahasa mengandung pengertian; taat,  patuh, tunduk  dan merendahkan diri kepada Allah. Sedangkan  menurut jum'hurul ulama dalam buku M. Hasbi Ashiddieqy (Kuliyah Ibadah, 2015: 1) dikatakan bawha, yang dikamsud ibadah itu adalah:

الْعِبَادَةُ هِىَ اِسْمٌ جَامِعٌ لِمَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ قَوْلاً كاَ نَ إَوْ فِعْلاً جَلِيًّا كاَنَ إَوْ خَفِيًّا تَعْظِيْمًا لَهُ وَ طَلَبًا لِثَوَابِهِ

“Ibadah itu yang mencakup segala perbuatan yang disukai dan diridai oleh Allah SWT, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik terang-terangan maupun tersembunyi dalam rangka mengagungkan Allah SWT dan mengharapkan pahala-Nya.”

Wallahu a'lam bissowaab ...

Jalan Hidup Santri Bernilai Ibadah Jalan Hidup Santri Bernilai Ibadah Reviewed by Aldy on 12/09/2020 Rating: 5

1 komentar:

Stay Connected

Diberdayakan oleh Blogger.